Kamis, 31 Desember 2015

Anak Jalanan

Anak Jalanan Fenomena merebaknya anak jalanan di Indonesia merupakan persoalan sosial. Hidup menjadi anak jalanan memang bukan merupakan pilihan yang menyenangkan, karena mereka berada dalam kondisi yang tidak bermassa depan jelas, dan keberadaan mereka tidak jarang menjadi masalah bagi banyak pihak. Namun perhatian terhadap nasib anak jalanan tampaknya belum begitu besar. Padahal mereka adalah saudara kita, mereka adalah amanah Allah yang harus dilindungi, dijamin hak-haknya, sehingga dapat tumbuh kembang menjadi manusia dewasa yang bermanfaat dan bermasa depan cerah. Karena anak jalanan juga pasti mempunyai cita-cita yang mulia, anak jalanan juga mempunyai sebuah impian yang besar, maka dari itu bagi orang-orang yang berkemampuan atau dalam kalangan menengah keatas marilah kita sama-sama mewujudkan cita-cita anak jalanan yang tentunya sangat mulia, karena mereka juga mempunyai hak yang sama dengan anak lainnya yaitu belajar dan bersekolah. Tetapi seringkali keluarga atau orang yang berada di sekitarnya tidak mampu memberikan hak-hak tersebut. Seperti misalnya pada keluarga miskin, keluarga yang pendidikan orang tuanya rendah, perlakuan yang salah pada anak, persepsi orang tua akan keberadaan anak dan lain sebagainya. Maka dari itu anak jalanan kebutuhan dan hak-hak anak tersebut tidak dapat dipenuhi dengan baik. Untuk itulah menjadi kewajiban orang tua, masyarakat dan manusia dewasa lainnya untuk mengupayakan upaya perlindungan agar kebutuhan tersebut dapat dipenuhi secara optimal. Karena anak jalanan seperti pengemis dan pengamen jalanan seringkali dianggap sebagai sampah masyarakat, karena baik pemerintah maupun masyarakat merasa terganggu oleh kehadiran mereka yang lalu lalang di perempatan lalu lintas, di pinggir jalan, di sekitar gedung perkantoran, pertokoan, dan banyak tempat-tempat lain yang seringkali dijadikan tempat beroperasi mereka. Banyaknya kriminalitas atau para criminal yang juga sering kali dikaitkan terutama dengan anak jalanan karena mereka di beberapa kesempatan terlihat melakukan tindakan-tindakan criminal seperti pencopetan, perampasan, melakukan tindak kekerasan, pelecehan seksual, penodongan, perkelahian dan masih banyak yang lainnya yang rentan dilakukan oleh anak jalanan. Mungkin hal-hal tersebutlah yang akhirnya membuat pemerintah dan masyarakat menganggap mereka sebagai sampah masyarakat. Sering juga kita lihat atau dengar Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) merazia anak-anak jalanan dan gelandangan di sekitar jalan untuk dibawa ke Dinas Sosial dengan alasan untuk di bina dan di didik secara baik sehingga mereka tidak kembali ke jalanan lagi. Namun yang terjadi malah kebalikannya bukan pembinaan sosial tersebut tetapi justru adanya tindakan kekerasan, pelecehan, dan pelanggaran hak-hak anak yang dialami oleh anak-anak jalanan. Kejadian seperti itu jarang terungkap di masyarakat karena anak-anak jalanan selalu menjadi korban tidak hanya yang melakukan perlawanan apalagi hingga melapor ke pihak yang berwajib karena mereka takut hal itu justru akan menjadi bomerang bagi mereka sendiri. Apabila kita pergi jalan-jalan pasti kita selalu melihat anak jalanan, pengemis atau gelandangan yang berada di perempatan jalan atau lampu-lampu merah hal itu salah satu akibat dari kemiskinan. Kemiskinan memang saat ini masih belum ada solusinya, tetapi tampaknya pemerintah masih belum juga maksimal dalam menangani masalah kemiskinan tersebut. Sehingga banyak nya gedung-gedung yang menjulang tinggi di daerah perkotaan hanyalah bagian depan dari Negara kita ini tetapi jika di lihat di bagian belakang gedung tersebut itulah wajah asli Negara kita, masih banyaknya rakyat-rakyat miskin yang membutuhkan bantuan dan uluran tangan kita, tetapi mereka yang sudah merasa cukup malah enggan untuk membantu sesamanya yang kesusahan, karena mereka takut uang mereka habis dengan cara seperti itu mereka lebih suka menghabiskan uang mereka dengan cara berlibur di luar negeri atau membelikannya barang-barang yang mahal. Sedangkan ada jutaan keluarga di negeri ini yang hidup di bawah standar kelayakan. Untuk menyambung hidup mereka dengan sengaja mempekerjakan anak-anak untuk berkompetisi di tengah pertarungan masyarakat yang terkesan liar dan kejam. Kekerasan demi kekerasan seperti mata rantai yang menimpa sekaligus menggilas anak-anak miskin hingga akhirnya mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang terbelah. Kita tidak bisa juga menyalahkan mereka karena kalau saja mereka bisa memilih sudah pasti mereka tidak ingin memilih untuk dilahirkan sebagai pengemis dan dibesarkan di tengah-tengah deraan kemiskinan orang tuanya. Karena setiap anak merupakan asset yang akan meneruskan cita-cita suatu bangsa, untuk mencetak anak-anak yang kelak dapat menjadi tulang punggung bagi bangsanya harus dipersiapkan sejak dini melalui pemenuhan kebutuhan fisik, mental maupun sosial yang sesuai dengan masa tumbuh kembangnya. Tetapi anak jalanan mempunyai keistimewaan yang tidak kita miliki. Keistimewaan itu adalah setiah hari mereka mampu melawan kekejaman kehidupan hanya untuk satu tujuan yaitu mencari uang untuk bisa bertahan hidup. Walaupun yang didapat hanya sedikit namun mereka tetap bersyukur dan tidak mengenal kata putus asa untuk kembali berjuang pada hari-hari berikutnya karena mereka yakin hari esok akan jauh lebih baik dari hari ini apabila kita tetap bersyukur dan melakukan semuanya dengan senyuman. Karena belum tentu kita bisa sehebat itu menghadapi kerasnya hidup ini. Miris rasanya melihat mereka menikmati kepedihan hidup, tak ada yang peduli bahkan tidak sedikit yang menganggapnya jijik. Di usia mereka yang masih relatif kecil dan muda seharusnya mereka masih dalam tahap belajar dan merasakan pendidikan layaknya anak-anak yang lain. Latar belakang ekonomi dibawah garis kemiskinan mendorong mereka untuk menjadi tulang punggung keluarga mereka. Terus lantaskah kita merasa jijik kepada mereka, seharusnya kita bisa belajar banyak kepada mereka tentang arti hidup ini tentang kerasnya hidup ini, mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya bukan hanya dirinya, tetapi kita yang berpendidikan dan berkecukupan malah kurang bersyukur dengan apa yang sudah kita dapatkan, kita malah jadi anak yang manja dengan meminta semua yang kita inginkan kepada orang tua. Seharusnya kita juga bisa berusaha sendiri bekerja untuk membeli apa yang kita inginkan, janganlah malu untuk berguru dan mencari ilmu pada siapa saja, karena untuk mencari ilmu yang bermanfaat lebih baik belajar dari orang-orang yang mempunyai banyak pengalaman karena pengalaman adalah guru yang paling sempurna bagi kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar